Breaking News

Pemerintah Akan Melarang Penjualan Rokok Batangan mulai 2023.

  


Jakarta, pnn.co.id - Belum lama ini, geger kabar pemerintah bakal melarang penjualan rokok 'ketengan' atau dijual per batang mulai 2023. Hal itu disoroti dokter paru. Pasalnya, langkah tersebut belum tentu efektif menurunkan niat warga Indonesia membeli dan mengkonsumsi rokok. Mengapa demikian?
Spesialis paru RS Persahabatan dan Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr Erlina Burhan, SpP(K) menyoroti, pun kelak rokok sudah tidak dibeli per batang, masih ada kemungkinan warga membeli rokok sebungkus kemudian digunakan bersama-sama. Khususnya, pada kelompok masyarakat yang terbatas secara finansial.

"Kalau saya dokter paru, concern-nya adalah konsumsi rokok memang harus menurun secara signifikan. Artinya, penurunan jumlah perokok itu harus signifikan. Banyak cara sebetulnya dan barangkali salah satu cara itu adalah dengan melarang penjualan rokok ketengan," jelasnya pada awak media, Kamis (29/12/2022).

"Cuma nanti ada permasalahan juga. Pertama saya sampaikan nanti kalangan yang memang uangnya terbatas akan urunan supaya bisa membeli satu bungkus lalu bagi-bagi. Itu untuk kelompok yang homogen, yang terbiasa bersama-sama," sambung dr Erlina.

Lebih lanjut dr Erlina menyebut, tantangan selanjutnya adalah perihal pengawasan. Pasalnya, penjualan rokok secara batangan biasanya dilakukan di warung-warung.

"Tapi implementasinya di lapangan siapa yang mengawasi? Ini warung-warung masih jual ketengan atau nggak, kan susah pengawasannya. Dan kalau ketahuan, sanksinya seperti apa," jelas dr Erlina.

"Jadi ada banyak kendala sebetulnya.Walaupun tujuannya menurut saya tetap mengurangi konsumsi rokok dan mengurangi jumlah perokok. Karena jumlah perokok di Indonesia kan tinggi banget terutama lelaki dewasa," imbuhnya.

Lebih lanjut dr Erlina menegaskan, pelarangan penjualan rokok secara batangan hanya akan berdampak pada orang-orang yang terbatas secara ekonomi. Artinya, untuk orang-orang yang mampu secara finansial, pelarangan tersebut tak akan terdampak lantaran masih mampu membeli rokok bungkusan, bahkan slop, di toko-toko.

Jika ingin dampak yang lebih luas terkait upaya menurunkan jumlah perokok di Indonesia, dr Erlina lebih meyakini efektivitas peningkatan harga dan cukai rokok setidaknya tiga kali lipat harga.

"Mungkin kalau bagi kalangan orang berduit sih dilarang beli ketengan nggak masalah. Dia beli sebungkus, bahkan kadang-kadang satu slop. Nah jadi memang di satu sisi mungkin bisa mengurangi, tapi di sisi lain nggak ada pengaruhnya untuk orang yang punya duit," beber dr Erlina.

"Cukai dinaikkan minimal tiga kali, bahkan bisa sampai lima kali. Itu bertahan, lama-lama orang yang terbatas uangnya nggak mau lagi membeli rokok karena gajinya habis untuk rokok. Lagi pula di satu sisi, cukai rokok itu dinaikkan," pungkasnya.

Mengingat, larangan penjualan rokok ketengan sempat disinggung Presiden RI Joko Widodo, mengacu pada salinan Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 2022 tentang Program Penyusunan Peraturan Pemerintah Tahun 2023.

"Pelarangan penjualan rokok batangan,"tertera dalam Keppres Nomor 25 Tahun 2022 yang diunggah di situs resmi Kementerian Sekretariat Negara.

Bersamaan dengan itu, ke depannya pemerintah akan melarang pemasangan iklan, promosi, dan sponsorship produk tembakau di media informasi. Pengawasan bakal dilakukan secara intensif di media informasi, penyiaran, dalam dan luar ruang.(red.Df)

0 Komentar

© Copyright 2022 - Pena Nasional News