Breaking News

Batal Nikah Gegara Adat Istiadat Mahar 75 Juta


 
Surabaya   pnn.co.id - Kisah Marwana Nareswari yang diunggah ke TikTok @me.awa viral. Perempuan asal Sulawesi Barat itu menceritakan bagaimana dirinya gagal menikah dengan calon suaminya yang berasal dari Surabaya padahal sudah bertunangan, foto prewedding, dan melakukan persiapan pernikahan lainnya.

Bukan karena kehadiran orang ketiga atau terhalang restu dari orang tua. Perempuan yang akrab disapa Awa itu tidak bisa melanjutkan hubungan lebih jauh dengan kekasihnya ke pelaminan karena adat.

Cerita sedih itu viral setelah diunggah oleh Awa di akun TikTok-nya. Ia unggah momen foto prewedding dengan calon suaminya serta memperlihatkan berbagai persiapan yang sudah dia lakukan menuju hari-H pernikahan.

"Gagal nikah karena orang ketiga ❌
karena orang tua ❌
karena adat ✅💯," tulis Marwana Nareswari di video TikTok-nya dilansir dari Wolipop, Kamis (12/1/2023).

Pada kolase foto itu tampak bahwa Awa telah menggelar pertunangan, prewedding, menyiapkan berkas-berkas untuk mendaftar ke KUA hingga memesan fotografer dan makeup artist.

Namun, takdir berkata lain. Dia dan calon suaminya mengaku mendapat ujian berat menjelang pernikahan mereka.

"Ketika adat mengalahkan agama❗️ #fyp #sulawesi," tulis keterangan video Marwana.

Awa menuturkan pada Mei 2022, ia dan pasangannya memutuskan untuk bertunangan. Setelah pertunangan itu lah drama terjadi dalam kehidupan percintaannya dengan sang calon suami.

"Di sini lah awal cerita adat istiadat itu di mulai. Cowokku datang ke Sulawesi didampingi ayahnya dan menentukan tanggal dan bulan pernikahan, tapi karena aku darah Sulawesi, keluargaku memberikan mahar Rp 75 juta untuk pernikahan kami di bulan 9 September nanti," kata Awa.

Rupanya angka mahar Rp 75 juta itu membuat keluarga calon suami Awa terkejut. Sebab keluarga calon suami Awa berasal dari Jawa, dan angka mahar tersebut dianggap sangat besar. Calon mertuanya menganggap mahar RP 5 juta sudah cukup untuk acara pernikahan. Namun tidak di Sulawesi.

"Adat lebih dijunjung tinggi. Akhirnya keluarga calonku mengiyakan mahar Rp 75 juta yang disebut panaik. kami paten nikahnya bulan 9 September 2022. Setelah acara tunangan calonku dan ayahnya pulang ke Jawa, aku nyusul ke Jawa. Mendekati bulan September tidak juga ada kabar baik tentang pernikahan kami, sampai bulan November 2022 aku duluan balik ke Sulawesi," ucapnya sedih.

Ketika sampai di kampung halamannya, Sulawesi, Awa mengaku menerima banyak tanggapan negatif. Pihak keluarganya merasa malu sebab rencana pernikahan yang sudah ditetapkan tak kunjung terlaksana.

Keluarga Awa pada akhirnya memundurkan tanggal pernikahan menjadi 7 Januari 2022, dengan syarat panaik tetap Rp 75 juta. Dan uang panaik itu seharusnya sudah diserahkan ke keluarga pada 25 Desember 2022.

"Awal bulan Desember 2022 calonku datang tanpa membawa uang Rp 75 juta itu. Calonku seakan tak ada lagi harga dirinya, awalnya keluargaku hangat, kini jadi beku bagaikan es kutub. Sedikit lagi mendekati tanggal 25 Desember 2022 kami pun banyak mengeluarkan air mata kesedihan seakan tak yakin terciptanya pernikahan kami. Dua minggu menuju 25 Desember 2022 calonku sakit parah," tuturnya panjang lebar.

Sampai pada 25 Desember 2022 calon suami Awa masih terbaring sakit. Dan keluarga Awa hanya menerima 20% uang panaik yang diminta dari pihak keluarga calon suami atau baru sekitar Rp 15 juta. Pada hari itu keluarga Awa marah besar, sedangkan Awa dan calon suaminya hanya bisa menghapus air mata masing-masing

"Dalam keadaan sakit parah calonku terusir oleh keluarga besarku. Sangat malang nasibnya. Keluargaku memutuskan membatalkan pernikahan kami. Kami saling berjanji untuk tidak saling meninggalkan, tapi keluarga aku dengan tegas bicara kasar di depan calonku kalau aku harus putus dengannya dan aku akan dijodohkan dengan laki-laki yang lebih mapan darinya," ujar Awa sedih.

Calon suami Awa menyerah karena tidak sanggup memenuhi uang panaik. Namun keduanya sepakat untuk tetap memperjuangkan cinta mereka.

"Hatiku hancur. Selama ini aku dibesarkan tanpa kasih sayang ayah dan ibu kini harus mengulang sakit yang sama ketika gagal menikah dengan orang yang kusayangi pada 4 Januari. Calonku sudah mulai mendingan, memutuskan untuk berpamitan, akan pulang ke Surabaya. Berjanji akan selalu menungguku. Kami saling menguatkan meskipun rapuh. Entah bagaimana selanjutnya. Hatiku terbawa olehnya. Apakah aku tetap memperjuangkan cintaku atau aku harus mengorbankan perasaanku demi orangtua?" ucapnya pasrah.

Awa dan calon suami sudah menjalani hubungan sejak April 2021. Setelah gagal menikah karena masalah uang panaik, kini keduanya memutuskan untuk berpisah sementara.

"Aku dan dia sudah berjanji tetap komunikasi dengan baik. Kami berdua memutuskan pisah sementara dan menyibukkan diri bekerja," terang Awa yang berusaha tegar.

Awa mengaku ingin menikah dan menggelar acara yang sederhana. Dia berharap keluarganya mau memudahkan urusan uang mahar atau panaik.

"Mudahkanlah mahar dan sederhanakan resepsi pernikahan untuk calon pengantin, orang tua, dan calon mertua. Mudahkanlah mahar sewajarnya sesuai keadaan. Janganlah dipaksakan padahal tidak mampu, karena ini untuk kebaikan anak-anak calon pengantin dunia dan akhirat," harap Awa.

"Kita mencari Berkah bukan gengsi. Kita mencari rida Allah bukan rida manusia. Allah yang menghidupi, bukan kenyang dengan gengsi. Jika dijelaskan baik-baik kepada keluarga, mereka akan paham bahwa 'dunia' lebih baik dialokasikan untuk membangun rumah tangga di awal-awal pernikahan," ujar Awa.(red.wf)


0 Komentar

© Copyright 2022 - Pena Nasional News