Breaking News

Kemiskinan dan Ketimpangan di Yogyakarta Tinggi, Ekonom Ungkap Penyebabnya

 


Jakarta, Pnn.co.id - Tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang diukur dengan rasio Gini menjadi yang tertinggi di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Apa penyebabnya? 

Berdasarkan data BPS, pada Maret 2022 tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk di DIY mencapai 0,439. Angka ini paling tinggi di antara semua provinsi di Indonesia.

Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkap penyebabnya. Menurutnya, Yogyakarta adalah kota pelajar dengan banyak universitas yang menjadi jujugan para mahasiswa.

"Artinya banyak pendatang baru sehingga terjadi gap yang cukup lebar. Apalagi sekarang banyak perguruan tinggi yang memasang tarif semakin tinggi, jumlah beasiswa orang yang tidak mampu di perguruan tinggi juga porsinya tidak terlalu besar," kata Bhima, Minggu, 22 Januari 2023.

Dia melanjutkan, para pendatang baru memiliki kondisi ekonomi yang lebih mapan daripada rata-rata orang Yogyakarta yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian. "Sebagian besar rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian adalah rumah tangga miskin. Selain miskin, profil usianya juga banyak diisi oleh usia non produktif di sektor pertanian," tutur Bhima. 

Ini mengakibatkan pendatang dengan uang relatif banyak dari kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya, bersekolah ke Yogyakarta. Menurutnya, kondisi itu akan memperlihatkan ketimpangan. 

"Nah, ada tren juga di Yogyakarta dimana mereka yang sudah pensiun dari kota-kota besar itu ingin menikmati hidup di Yogyakarta. Jadi, bayangkan ya pensiunan dari perusahaan besar, dari profesional, dari BUMN, nah dengan uang pensiun yang cukup besar mereka membeli properti di Yogya. Jadi apa akibatnya? Ketimpangannya tinggi," beber Bhima.

Mengapa Kemiskinan Tinggi tapi Kebahagiaan juga Tinggi

Lebih lanjut, Bhima mengungkap mengapa meskipun Yogyakarta memiliki ketimpangan dan kemiskinan yang tinggi, tapi harapan hidup dan kebahagiaannya juga tinggi. Menurutnya, itu karena budaya lokal nrimo (menerima).

"Ya itu karena budaya lokal yang disebut nrimo, nrimo ing pandum. Jadi, artinya dia itu cenderung menerima apa adanya. Jadi, ada budaya yang sebetulnya sifatnya permisif terhadap kemiskinan bahwa ini adalah pemberian atau harus ikhlas menerima," kata dia.

Budaya semacam ini juga ada di luar negeri, seperti Nepal yang memiliki dimensi kehidupan bagi warga lokal agar tidak hanya mengejar keuntungan materialistis.

"Tapi, sebenarnya kalau dipandang dari sudut pandang ekonomi itu salah. Harusnya ada korelasi antara kebahagiaan dan kesuksesan," tuturnya.

Sebab negara-negara dengan indek bahagia tinggi di dunia adalah negara yang memiliki tingkat ekonomi tinggi dan pemerataan yang baik. Seperti Skandinavia dengan ekonomi dan tingkat pemerataan yang bagus, serta dari sisi pendapatan per kapita masuk ke negara maju. 

"Ini (permisif terhadap kemiskinan) perlu intervensi. Salah satu intervensi yang harus dilakukan itu sebenarnya upah minimum. Jadi, kalau upah minimum warga lokalnya juga naik maka gap ketimpangan dengan para pendatang itu semakin menyempit," ungkap Bhima.  (Red.Sl)

0 Komentar

© Copyright 2022 - Pena Nasional News